Sekolah Terus, Lha Kapan Mainnya?

Hari pengambilan rapor memang sudah lama berlalu. Di sekolah kami rapor diambil tanggal 17 Juni 2015 yang lalu.

Seperti biasa, sekolah mengundang orang tua dan wali murid untuk mengambilnya. Lalu wali kelas memberikan rapor di kelas masing-masing.

Tahun ini saya menjadi wali kelas 10. Tepatnya di kelas 10 MIPA 3. Kelas yang tergolong gemuk, karena ada 37 anak di situ.

Pagi jam 9.00 WIB saya masuk ke kelas. Rupanya orang tua sudah menunggu. Beberapa hal yang menyangkut kegiatan akademik segera saya sampaikan, termasuk kriteria kenaikan kelas, karena ini pembagian rapor semester genap.

Tahun pelajaran 2014/2015 ini agak berbeda kriteria kenaikan kelasnya dengan tahun kemarin. Jika tahun kemarin mempunyai mata pelajaran wajib dan mata pelajaran ciri pada tiap peminatan yang mensyaratkan tuntas agar naik kelas, tahun ini semua mata pelajaran sama kedudukannya. Maksimal 3 nilai mata pelajaran yang diperbolehkan belum tuntas dalam rapor.

Semuanya berjalan lancar. Kembali saya memperkenalkan ruang kelas yang kami tempati sekarang ini. Ruang kelas di mana anak-anak kami belajar setiap hari. Saya menyebut dengan bangga nama kelas yang dipilih oleh anak-anak ini sebagai identitas mereka. SuMiYaTi, sepuluh MIPA Tiga. Orang tua tertawa. Rupanya banyak dari beliau ini belum mengetahui julukan unik kelas kami. Ah, ingin rasanya saya menuliskan tentang anak-anak SuMiYaTi ini, tapi lain waktu saja ya?

Orang tua saya persilakan untuk maju satu per satu dan duduk di depan meja guru yang ada di depan kelas sesuai urutan. Kami sama-sama membuka rapor masing-masing anak. Lalu saya berikan penjelasan mengenai angka-angka dan deskripsi yang tertera. Kebanyakan dari mereka bertanya, anak saya rangking berapa? Anak saya bagaimana kalau di sekolah?

Ada hal yang membuat saya terkesan di penghujung pembagian rapor. Saat ibu dari seorang anak maju lalu duduk di depan meja saya.

Setelah membuka rapor dan melaporkan isi-isinya, saya bercerita kalau anak ibu ini sangat istimewa.

Begini maksud saya.

Saat anak-anak yang lain sedih jika nilainya turun, eh waktu tahu nilainya naik malah si anak bengong dan bilang, “Aduuh, kenapa nilaiku naik, Buk. Saya kan maunya di tengah-tengah saja.”

Begitu protesnya.

Anak ini memang tergolong aktif. Hampir semua kegiatan ekstrakurikuler diikuti. Khawatir juga saya, kalau-kalau sampai tertinggal nantinya. Saya titip ke ibunya untuk tetap mendampinginya belajar, sekaligus saya berpamitan karena di kelas 11 nanti saya tidak lagi menjadi wali kelas mereka.

Namun, jawaban yang saya terima sungguh di luar dugaan.

Nggak pa pa kalau anak saya rangkingnya di tengah, bahkan di bawah, Bu. Yang kami pentingkan sebagai orang tua itu, anak kami bisa mengikuti dan memahami apa yang dipelajari di sekolah. Punya skill, juga banyak teman,” ujarnya.

“Karena hidup tidak melulu soal nilai di rapor, tapi lebih ke nilai-nilai di kehidupan itu sendiri. Dengan banyak mengikuti kegiatan berorganisasi, harapannya anak kami akan kaya pengalaman, jadi pintar mengelola waktu, mengelola emosi,” lanjutnya.

Ah, hati saya sungguh gembira saat mendengarnya. Rasanya seperti ingin melompat ke udara saking senangnya.
Saya bahagia karena ternyata masih ada orang tua yang seide dan sangat mendukung kegiatan anaknya.

Selalu di awal tahun pelajaran, saya memang kampanye ke anak-anak. Tidak hanya di kelas saya saja ya, tapi di seluruh kelas. Kampanye agar mereka aktif berkegiatan. Ikut terlibat dan ambil bagian di kegiatan sekolah.

“Mau sekolah aja nih? Di sekolah belajar, di rumah belajar lagi, kapaan main-mainnyaa?” ini kalimat andalan saya untuk memancing mereka agar aktif berkegiatan. Hihi..

Saya banyak berterima kasih ke ibu tadi. Ucapan terima kasih karena selalu berdiri di samping anaknya, tidak menuntut dan menerima apapun keadaannya.

Terima kasih, Ibu. Apa yang Ibu katakan pada hari itu, sekaligus harapan, bahwa sekolah tidak selalu sendirian. Bahwa ada orang tua yang sedemikian perhatian.

Advertisements

One thought on “Sekolah Terus, Lha Kapan Mainnya?

  1. Ini menohok sekali, bu. ^^;

    Ah, sebelumnya, Assalamualaikum. Saya mantan murid bu Ninok yang udah lama nge-stalking blog ini. :p

    Yah, di satu sisi, kagum deh lihat siswa dan orang tuanya yang sadar (dan rupanya mengaplikasikan) pentingnya skill di dalam dan luar sekolah, menghargai waktu, dan mengelola emosi. Kagum pisan. Lalu, sekolah itu nggak harus dapet ranking bagus, yang penting mengerti. (disini saya mesam-mesem sendiri.)

    di sisi lain, jangan-jangan justru saya yang menghabiskan masa sekolah dengan kepedulian mutlak pada nilai rapor, tapi kurang cerdas dalam mengasah lifeskill yang lain-lain.

    Ups. OwO;

    Waktunya introspeksi diri lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s