Lupa lagi. Lagi-lagi Lupa.

Adalah biasa jika saya kebingungan dan menumpahkan semua isi tas mencari-cari kunci pintu. Biasa juga jika saya terlihat mondar-mandir dari ruangan depan sampai dapur rumah demi mencari handphone yang sepertinya baru saja ada di tangan.

Penyakit lupa ini entah kapan mulainya saya lupa juga ya. Hihi. Tapi anehnya oleh orang lain terutama orang tua, mengenal saya kecil sebagai orang-yang-tajam-ingatan. Kata mereka, saya lah rujukan jika ada yang kesulitan mencari benda-benda. Saya akan cepat menunjukkan di mana pernah melihatnya. Dan tepat. Wow. Betapa kerennya saya ya? *halah* 😀

Siang tadi di kantor, seperti biasa saya mengeluarkan laptop untuk beraktivitas. Setelah beberapa saat terlihat indikator baterai menyala merah yang artinya mesti diisi. Setelah membuka tas, saya hanya bisa menemukan 2 charger; blackberry dan handphone. Tidak ada charger laptop. Rrrrrr..lupa lagi lupa lagi. Well, okelah. Saya kemudian mengubah pengaturan pemakaian baterai di laptop menjadi power saver dari pengaturan biasanya, balance. Aman untuk sementara. Setelah melanjutkan beraktivitas, kaget sekali rasanya, saya melihat charger sudah menempel cantik di laptop dan colokan. Sejak kapaaaaaan? Saya yang nyolokin? Sepertinya demikian. Karena saya tidak beranjak dari tempat duduk dari pertama kali datang. Rupanya yang saya lihat indikator merah tadi bukan indikator baterei habis tetapi indikator bahwa baterai sedang terisi.  -____-

Ada lagi sedikit cerita yang berhubungan dengan lupa saya ini. Beberapa tahun yang lalu saya bertemu lagi dengan seseorang yang istimewa di masa remaja. Dalam pertemuan itu, ingatan saya melayang ke belakang. Ingatan saat pertama kali melihatnya, kemudian naksir. Hihi. Ingat benar percakapan-percakapan kami di masa lampau, cara bicara bahkan gaya dia berjalan. Setelah ngobrol agak lama, dia bilang,”wah sejak kamu main ke rumahku itu sudah berapa tahun kita tidak bertemu ya?” Hah? Saya? Ke rumahnya? Emang pernah ya? Pff.. Untuk seseorang yang saya anggap istimewa di masa lampau ini kok saya merasa agak keterlaluan ya? Kenapa sampai bisa lupa? Apa yang terjadi? Apa ada kejadian penting diantara kami sehingga saya memutuskan untuk tidak mengingatnya?

Sedih? Iya. Banget. Karena mengingat-ingat itu ibarat kita sedang duduk di depan sebuah televisi besar yang menayangkan adegan drama dalam bahasa yang kita tidak mengerti artinya. Melihat memang, tapi sepanjang adegan kita hanya bisa menduga-duga jalannya cerita. Ah!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s