Heart Complex

“Jadi selama ini kamu bohongin aku?!”, teriakan Al geram terdengar dari ponsel yang masih menempel di telinga Anin.

“Al, aku ga bohongin kamu. Sumpah selama ini aku nyari jalan biar bisa sama kamu.”

“Lalu kenapa sekarang kamu bilang mo merid? Tiga jam dari sekarang. Tega kamu An!”

Anin sejenak terdiam. Iya, dia tau kalo salah. Sebenarnya dia tidak punya keberanian untuk bilang ke Alan untuk mengabarkan pernikahannya. Tapi bagaimanapun nanti Alan juga pasti akan tau, jadi Anin benar-benar mengumpulkan keberanian sebelum memutuskan menelepon Alan sore itu.

“Kamu pikir aku becanda waktu aku bilang, Al jangan merid, Al jangan merid. Aku inget dua kali aku ngomong. Lalu apa jawab kamu waktu itu Al? Ga bisa An, aku uda minta. Uda ada tanggal, uda dikasi juga sama orang tuanya. Lalu aku bisa ngapain Al, kalo kamu aja uda ngomong kek gitu?”

“Tapi kamu pernah janji An, kalo kamu available kamu bakal bilang ke aku?”

“Iyah, aku uda berusaha kasi sinyal ke kamu. Tapi dengan jawaban kamu seperti itu dan lagi apa iya aku bakal sejahat itu ke tunanganmu?”

Aaah kompleknya hubungan ini. Anin, Rama, Alan, Eni.

to be continue

Advertisements

10 thoughts on “Heart Complex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s