Puding coklat

Aku gila puding coklat!

Kegilaanku sudah pada taraf obsesif kompulsif akut. Huff..

Setiap kudengar atau kumelihat kata puding coklat pada sebuah menu
hatiku megap-megap tak kuasa untuk tidak mencobanya.

Aku terus mencoba dan mencari-cari taste puding coklat seperti yang kuingat.

Keobsesifan kompulsifku pada puding coklat berawal ketika aku masih kecil.

Sepertinya beberapa bulan sebelum ibu meninggal.
Mungkin umurku sekitar 9 tahunan.

Waktu itu keadaan ibu membaik, ibu diperbolehkan pulang oleh rumah
sakit tempat ibu opname berbulan-bulan.

Oleh budheku, ibu dibuatkan seloyang puding coklat. Bahkan aku masi
ingat bentuknya.
Sebuah puding coklat mungil dengan cetakan loyang yang bergelombang dengan warna puding tumpuk coklat tua sebagai dasar dan coklat muda diatasnya.

Karena ibu baru keluar, budhe berpesan padaku agar aku menyimpannya untuk disampaikan ke ibu.
Yay! pudiing c o k l a t..! Harumnya tercium menggoda aku untuk mencicipinya. Sedikit saja kataku dalam hati. Ga pa pa..sedikiiit saja..hihi
Kuambil sendok. Kucicipi sedikit saja awalnya. Enaaaak..lezattt banget di lidahku.
Tidak terasa puding coklat setengah loyang mungil itu sudah kumasukkan ke perutku..

Ibu datang.
Ibu menatapku dalam, terdiam melihat aku, puding yang tinggal setengah loyang dan sendok yang masih ada di tanganku.
Ibu cuma bilang, “dimana kakakmu? tidak kau bagi puding itu dengannya?”

Maaaf ibu..aku lupa berbagi. Aku terlalu rakus menikmatinya sendiri.
Bahkan harusnya puding itu bukan untukku atau kakakku. Puding itu untuk ibu.

Sejak saat itu, aku gila puding coklat dengan taste yang sama persis dengan puding coklat yang kuhabiskan waktu itu.

Setelah aku besar, kuminta budhe untuk membuatnya lagi puding yang sama persis tapi kenapa terasa tidak sama tastenya? Tidak seenak dan selezatt yang kurasakan waktu itu?

Dari sekian banyak puding coklat yang kurasai sampai sekarangpun tidak ada yang sama rasanya?

Apa situasi ikut mempengaruhinya?
Puding coklat dan tatapan dalam ibu?

Sejak hari itu aku berjanji untuk selalu berbagi.Terus belajar menahan diri agar tidak terlalu banyak menikmati sesuatu.

Terimakasih ibu..banyak pelajaran yang kuambil darimu, dari semangatmu..*miss u so much ^^

Advertisements

2 thoughts on “Puding coklat

  1. mungkin karena waktu itu puding coklatnya bukan buat mbak…
    jadi rasanya ada tantangan untuk memakan pusing coklat itu…
    hehe jadi rasanya beda mbak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s